Flanerie: Kampung Blawan & Surrounding

amazing view around Catimor

amazing view around Catimor

“Mon, Natal liburan kemana?” tanya si Jemb suatu ketika.

“Belum tahu Jemb. So far belum ada rencana..” Jawabku singkat.

“Ke Blawan yukssss…. Dekat Ijen sana….”

“Ayoookkk…”

Catimor Guesthouse

Catimor Guesthouse

Dari percakapan singkat ini, akhirnya Jemb dan aku merencanakan liburan Natal di Kampung Blawan, Sempol, Bondowoso yang merupakan milik PTPN XII. Biar lebih seru, Wima aku tawarin kali saja dia mau bergabung dengan kita. Yes, she’s in. Awal November lalu, Jemb dan aku booking penginapan di Catimor, Guesthouse yang letaknya pas di depan Kampung Blawan. Penginapan ini juga dikelola oleh PTPN XII bersama dengan Arabica guesthouse di Jampit dan penginapan yang di Kebun Teh Wonosari, Malang.

Penginapan selesai di-booking, giliran memesan tiket kereta api. Kami rencana memang turun di Jember. Ke Blawan akan kita pikirkan nantinya. Bisa naik angkutan umum atau rental mobil dari Jember. Kami rencana pergi dan pulang dengan naik kereta dari Jember. Berangkat 24 pagi, dan baliknya 26 Desember malam. Jadi, bisa sampai di Surabaya 27 Subuh. Jadinya Jemb bisa mengejar kereta balik ke Jakarta pada 27 malam.

Kampung Blawan yang bikin Jemb termehek-mehek

Kampung Blawan yang bikin Jemb termehek-mehek

Tapi, rencana tinggal rencana. Transport, ada perubahan mendasar. Pergi ke Jember-nya, aku akhirnya memutuskan naik pesawat karena ada alasan urgent (halah). Ehhhhhh…. Kereta api pulangnya ternyata kita salah beli tiket (ngakak seru yang ini). Kami tidak noticed, kalau kereta berangkat dari Jember itu dinihari (00.35), which means, kalau kita pesen 26, berarti itu 26 dinihari. By the time, kita masih tidur dengan nyenyak di Catimor, hahaha. Harusnya, kami pesan tiket yang 27 Desember (dinihari). Kami ngakak plus ngenes. Artinya, kami harus terkatung-katung lagi naik bis atau travel. Padahal, kami sudah membayangkan melakukan banyak hal ketika menunggu kereta tengah malam di Jember. Misalnya, makan martabak sama terang bulan bareng. Ya sudahlah, rencana tinggal rencana. Mungkin, kita lagi tidak diijinkan untuk naik kereta api saat itu. J

Anyway, kami akhirnya dijemput teman Jemb dan diantar ke Sempol dari Jember. Dari Jember sekitar 3 jam untuk sampai di Catimor. Sampainya di Catimor, sudah banyak rombongan yang datang dan check in. Ramai sekali malam itu. Rovi, orang yang in-charge di Catimor sampai pusing. “Ini travel di Probolinggo pesen kamar buat 20 orang, yang dikirim 40 orang… Coba, saya taruh mana mereka….” Sampai jam 10 malam, penginapan masih agak chaos. Ditambah chaos lagi, ada sopir salah satu travel yang mabuk. Entah kebanyakan minum atau tidak terbiasa minum terus minum. Sama brondong blesteran yang menyewanya, si sopir dibawa ke mobil.

Ohya, malam itu kami memesan makan malam di hotel. Satu paket menu yang isinya nasi satu mangkok kecil, telur dua iris, perkedel dua iris, sayur soup satu mangkok, ayam dua potong, kerupuk tiga biji, dan semangka satu biji. Satu paket makanan ini dibandrol Rp. 60 ribu. Makanan itu, kami bagi bertiga. Malam itu, kami sudah malas keluar-keluar. Lagian, malam itu saya merasa agak capek. Karena paginya bangun dengan kaget karena kurang tidur. Ditambah, pesawat yang landing tidak enak yang bikin kaget. Plus, dari Jember ke Sempol juga tidak bisa tidur. Jadilah, agak lemeeesss dan pengennya segera tidur. J

 

Blawan & Surrounding

Ketika kami bangun pagi, penginapan sudah sepi!!! Hahaha. Hanya beberapa orang yang ada di dining room. Semua orang sudah check out dari hotel. Yes, orang-orang yang menginap di Catimor umumnya adalah orang-orang yang ingin mendaki Kawah Ijen. Jadinya, mereka jam 1 atau 2 malam sudah cabut dari hotel karena mereka ingin melihat blue fire. Karenanya, ketika pagi, penginapan sudah sepi. Kami mendapatkan sarapan roti pakai selai dan telur rebus!!! Ya sudahlah, kami makan sarapan sederhana ala Catimor Guesthouse itu. Kami rencana, akan jalan-jalan sambil mencari nasi pecel, hehehe. (meskipun akhirnya kami akan tahu, tidak ada orang jualan makanan/nasi di siang hari di Blawan, hiks.). Sebenarnya, saya sempat sedikit menyesal tidak membawa emergency mealku seperti chia seed. Atau, biasanya aku membuat granola. Duh, kepaksa makan wafer sama roti marie. 🙂

Kampung Blawan & Kebun sayuran

Kampung Blawan & Kebun sayuran

Agenda hari itu, menyusur kampung dan pergi ke air terjun. Ohya, Kampung Blawan ini bukan satu-satunya kampung serupa di Sempol. Ada beberapa kampung lainnya. Semuanya di bawah PTPN XII. Kampung ini dihuni oleh orang-orang yang bekerja di kebun milik BUMN ini. Model rumah-rumah di kampung ini nampak rapi dan seragam. Di tiap rumah, di depannya pasti memiliki kebun yang ditanami sayuran atau apotik hidup. Ada juga kolam kecil yang orang-orang bisa memelihara ikan. Senang sekali melihatnya. Kata ibu-ibu yang kami temui di  Warung Bu Ipeh sore harinya, mereka cerita, kalau tiap bulan, kebun-kebun itu dilombakan.

demplot sayuran dan kopi

demplot sayuran dan kopi

Dalam perjalanan dari penginapan ke arah air terjun, kami menjumpai sign “Rute Ijen Running Trail.” Penasaran, kami mengikuti trail itu. Disana, kami bertemu dengan demplot perkebunan. Setelah itu, jalan semakin naik. Ih, lumayan juga trekking kecil ini. Menurut orang yang kami temui, kalau kami terus berjalan ke atas, kami akan bertemu dengan kebun kopi milik PTPN. Cuman, tidak tahu seberapa jauh. Kami memutuskan untuk menyusuri track itu sampai kami ingin kembali. Track ini lumayan juga. Mengingatkan aku pada track-track di Trawas. Pemandangan juga asyik. Ijen!!!

hiking

Berjalan sekitar 1 KM, kami memutuskan untuk kembali ke bawah, dan pergi ke air terjun. Dari demplot, kami turun sekitar 1 KM. Nah, air terjun itu masuk ke dalam kompleks Cagar Cideng. Di lokasi itu, selain air terjun, ada juga pemandian Damarwulan dan Gua Kapur. Kami memutuskan untuk pergi ke Air Terjun terlebih dahulu. Jalan menuju ke air terjun lumayan naik turun di jalanan licin. Tapi, sesampainya di bawah, serasa paid off! Air terjun yang kami temui luar biasa amazing-nya. Selain deras dan debit airnya yang besar, air terjunnya anget!!!! Air terjun anget ini berasal dari sulphur dari Kawah Ijen (probably). Tidak hanya air terjun saja yang anget, di dekat air terjun, ada pipa yang mengalirkan air dari bawah pohon. Dan, airnya juga anget cenderung panas. Kita sempat duduk-duduk disana sebentar untuk merendam kaki. Sangking panasnya, pipa dan “bak” penampungan sementara sampai seperti berkarat begitu.

the waterfall

the waterfall

Puas main di air terjun, kami menuju ke pemandian Darmarwulan dan Gua Kapur. Sayangnya, jalan menuju Gua Kapur sangat sangatlah curam sehingga kami memutuskan untuk tidak turun. Daripada terpeleset, ga lucu, hehehe.

track arah Gua Kapur

track arah Gua Kapur

Pemandian Damarwulan

Pemandian Damarwulan

Puas muter dan main-main, kami kembali ke Catimor dengan lewat kampung Blawan lagi. Kami melihat, orang-orang berbondong-bondong ke masjid. “Eh, rajin banget ya ini orang-orang di Blawan dengar adzan langsung ke masjid….” Gilingan, lupa boooo kalau hari itu Jum’at. Sudah wajarlah orang jadi lebih tepat waktu ke masjid, hehehe.

 

 

Leave a Reply