Day One I Start A Challenge – The Day When Urges (to Fail) Are Growing Stronger

Saya seringkali mencoba berbagai challenge alias tantangan-tantangan. Mulai dari menuliskan semua pengeluaran saya, belanja bahan makanan seratus ribu per bulan, tidak membeli buku selama setahun, tidak belanja selama beberapa bulan, tidak makan gula selama sebulan,  dan juga mau makan paling simple dengan maksimal empat jenis makanan. Dari tantangan-tantangan ini, ada yang berjalan dengan baik dan ada yang gagal di tengah jalan.

Namun satu hal yang pernah baru saja saya sadari beberapa hari yang lalu. Di hari saya menetapkan dimulainya tantangan itu, sudah mulai saya memiliki beban psikologis, dan itu membuat tantangan itu jauh lebih berat. Saya ingat, ketika itu saya menjalankan tantangan “makan dengan menu sederhana” yang terdiri dari nasi, telur, selada, dan tomat selama satu minggu. Jadi, berapa kalipun saya makan, maka itulah menu saya. Tidak boleh ada camilan yang lainnya. Itu sebenarnya adalah proses detox di dalam usus saya dan membiasakan usus saya untuk menerima menu makanan yang paling sederhana sehingga proses pencernaan bisa lancar.

I Quit Coffe Successfully

I Quit Coffe Successfully

Di hari pertama saya melakukan challenge ini, saya sudah mulai drooling ketika melihat makanan. Belum pernah sebelumnya saya se-drooling itu melihat makanan. Apapun yang saya lihat kelihatan sangat enak dan membuat produksi air liur saya berproduksi sangat banyak. Bahkan sepotong hamburger-pun. Padahal, saya sebenarnya bukan fans berat burger. Tepat di hari ketiga, saya menyerah; sama teman yang juga melakukan tantangan itu langsung “buka” di restoran yang lagi “in” di Surabaya, Domicile. Tidak puas dengan Domicile, beberapa hari kemudian kami menyatroni Carl’s Jr yang ketika itu hanya ada di Bandara Juanda Terminal II.

I Quit Sugar challenge sebenarnya lebih sukses dibandingkan dengan yang ini. Meskipun ketika itu posisi saya sedang berada di lapangan. Ketika menjalankan tantangan ini, saya harus menjauhi semua jenis baked goods, buah-buahan, segala jenis makanan yang mengandung starch, dan tentu saja gula. Well, gula tidak menjadi masalah buat saya, karena saya selama ini bukan penggemar per se sejak 2012 yang lalu. Jadi, ini tidak menjadi masalah yang besar. Ketika itu, saya sedang berada di lapangan. Jadi, sebenarnya tantangan itu agak susah juga karena saya tidak mampu untuk menyiapkan menu makanan sendiri. Beruntung ketika itu Puasa Ramadhan. Jadi, saya hanya makan paling banyak dua kali dalam sehari. 😀 :D. Ini tergolong sukses, karena cheating saya bisa dihitung dengan jari. Keinginan saya untuk makan baked goods benar-benar berkurang. I was cold Turkey.

Sebenarnya, mungkin yang paling tepat dilakukan ini adalah just do it thing. Tidak perlu menetapkan ini sebagai satu tantangan. Tetapi, dijadikan satu keputusan yang embedded dengan segala kegiatan kita. Seperti misalnya ketika saya memutuskan untuk I Quit Coffee, I just quit. And I never look back. Kadang ya, masih ingin minum kopi. Tetapi ketika saya melihat kopi sudah tidak seperti dulu lagi. Tetapi sebenarnya, masih sangat suka dengan bau kopi segar yang baru saja di brewed. Kalau tidak begitu,  langsung dimulai tanpa perlu menyadari kita sedang melakukan satu tantangan ini dan itu. Misalnya, kalau mau makan makanan sederhana, ya sudah, diisi saja kulkas hanya dengan selada, tomat, dan telur. Itu saja. Mencoba memakan itu saja. Tetapi, kalau pengen cheating ya silahkan.

Sebenarnya, manusia melakukan banyak challenge itu karena keinginan manusia itu melakukan tes terhadap keterbatasan-keterbatasan yang dia miliki. Saya sadar itu. Jadi, ketika saya gagal melakukan challenges yang saya tetapkan sendiri, saya menyadari, keterbatasan saya semakin bertambah.

Leave a Reply