Curug Omas, Ojek, dan Dua Butir Kelapa Muda

Curug Omas

Curug Omas

Hiking di puncak musim kemarau bukanlah ide yang bagus. Well, sebenarnya November bukan puncak musim kemarau. November seharusnya sudah masuk musim penghujan. Hanya saja, karena climate change dan El-Nino yang menerjang Indonesia tahun ini, kemarau kali ini lebih kerasa sekali panasnya. Mungkin, ketika saya hiking di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir. Djuanda itu udara sedang asyiknya di kisaran 38-40C. Gila, panasnya gilingan… hahahaha.

Kami berangkat dari Bandung juga sudah siang. Sekitaran jam 08.00 pagi cabut dari hotel karena manis nonton film “Mathilda.” Itupun masih diselingi dengan makan bubur ayam dan mampir di toko kue. Kami naik angkot untuk sampai ke Dago atas. Dari terminal Dago, kami memutuskan untuk jalan kaki. Gila, panasnya tidak ketulungan… Mungkin, jarak dari terminal Dago ke pintu masuk Tahura tidak seberapa jauh, sekitaran 1.5-2 KM, tetapi jalan yang sempit ditambah dengan panas membuat jarak semakin kerasa jauh banget… Selama berjalan, kami harus berjibaku dengan mobil dan motor-motor yang juga mau naik atau turun. Kami sampai mepet-mepet ke pinggir supaya bisa jalan dengan lebih aman. Ketika kami baru turun dari angkot, kami sebenarnya sudah ditawari untuk naik ojek saja. “Jauh Neng…” Kami ngotot tidak mau ngojek dan jalan kaki.

tahura-1

Ketika sampai di pintu masuk Tahura, serasa sudah saya dehidrasi sekaligus pengen pipis. Ya sudah, akhirnya pipis dulu. Tetapi, saya bilang ke teman saya, kalau sebelum hiking nemu degan, saya mau minum degan dulu. Akhirnya, jadilah kami berdua minum degan sebelum hiking. Setelah merasa sudah cukup elektrolit, kami berangkat hiking. Eh, sebelumnya ditanya oleh teman saya, “Ini hiking maunya pakai patokan jarak atau waktu?” Maksudnya, buat planning, kita nanti mau berapa lama di Tahura. Jawabku sudah sangat khas, “Lihat saja ntar… “ Hahahaha.

Tujuan kami ke Curug Omas. Tetapi sebelum itu, kami mampir di dua buah gua; Goa Jepang dan Goa Belanda. Selama kami di dua tempat ini, kami selalu ditawarin buat naik ojek… “Jauh lho Neng… “ Dengan halus kami menolak. Begitupun ketika kami mulai berjalan menuju Curug Omas, sepanjang jalan kami terus ditawari ojek. Dan, kami juga konsisten untuk menolak. Memang, sepanjang jalan kemudian kami banyak bertemu dengan orang/pengunjung yang naik ojek. Temanku berbisik, “Ih, apa ga takut ya dengan jalan naik turun kayak gini ngojek. Gue mah mendingan jalan…” Saya bisa membaca kekuatiran teman saya ini. Karena kita pada dasarnya sama. Mungkin kalau saya naik ojek, saya akan sering teriak histeris. Jalan tidak saja naik, tetapi berbatu kasar. Bisa terpeleset lah.

sebagian jalan yang dipaving

sebagian jalan yang dipaving

Ketika berjalan, kami bertemu dengan banyak rombongan anak sekolah. Umumnya mereka pakai seragam Pramuka. Kami juga melihat beberapa orang yang bersepeda. Tahura Djuanda sendiri sebenarnya sangat asyik, dengan jalan yang sebagian sudah di-paving, tetapi sebagian masih makadam. Kalau tidak terlalu panas, saya bisa pastikan kalau pemandangannya juga asyik dan dingin. Sayangnya, karena musim kemarau panjang, pohon-pohon jadi kering dan meranggas. Juga, jalan menuju ke air terjun juga menjadi sangat berdebu. Untung saya bawa masker. Eh, agak aneh juga sebenarnya, kita ini hiking di alam biar menghirup udara segar, tetapi malah pakai masker. Ah, sutralah….

Sangking panasnya, kami merasa jalan tidak sampai-sampai. Ketika ada ibu jualan warung dan ada tukang ojek disitu, kami tanya, apakah air terjunnya masih jauh? Jawab mereka, “lima tanjakan lagi….” Setelah itu, kami sibuk menghitung tanjakan.. Hahaha. Semakin ke atas, tanjakannya semakin banget. Gilingan… Hehehe. Ohya, lupa bilang, kalau jarak ke Curug Omas dari pintu masuk itu sejauh 5 KM. Jadi, kayak jarak dari rumahku ke SMP-ku jaman jebot itu. Tidak terlalu jauh sebenarnya, asalkan tidak terlalu panas. 🙂 🙂

tahura-4

Eh, pada akhirnya…. setelah lima tanjakan terakhir dan dengan bercucur keringat, kami sampai di Curug Omas. Sebenarnya, curug ini juga tidak heboh-heboh amat. Air terjunnya kecil. Di atasnya ada jembatan yang dibuat untuk menyeberang. Orang-orang setelah sampai disini, ya pada nongkrong di tempat yang luas semacam taman. Banyak monyet-monyet disitu. Banyak orang jualan strawberry atau rasberries. Dan, tentunya banyak orang jualan bakso, hehehe. Kami duduk-duduk sebentar disana. Makan rasberries yang dijual satu mika Rp. 5,000. Kata si bapak yang jualan, kalau beli Rp. 10 ribu, dia bakal kasih tiga. Tapi itu sudah cukup bagi kami. Satu mika dibagi buat berdua. Dan, juga monyet-monyet yang berkeliaran disana.

even sebelum hiking sudah kelihatan gosong hahaha.

even sebelum hiking sudah kelihatan gosong hahaha.

Dalam perjalanan balik, saya bertemu dengan tukang degan yang sama. Saya berbisik ke teman saya. “Saya butuh degan lagi nih kayaknya….” Kamipun mampir lagi disana. Teman saya sudah cukup dengan satu butir degan yang diminum sebelum berangkat hiking. Saya juga sempat beli rangin dan jadah bakar yang banyak dijual oleh orang di lokasi Tahura. Eh, ternyata, jadahnya tawar. Tidak seperti di Jawa Timur yang gurih. Ternyata di Bandung, jadah bakar makannya pakai oncom atau rasa yang lainnya.

Balik ke Bandung, tubuuh rasanya melayang. Efek dehidrasi kayaknya. Sebelum balik hotel, mampir beli picnic roll sama dawet. Maunya pesta di hotel. Eh, dawetnya habis. Ya sutralah, akhirnya makan picnic roll saja. :). Habis itu, saya langsung terkapar tidur.

Leave a Reply