Berjalan di Indonesia #3Toleransi

pink sandal

Mungkin ini hanya perasaan saya saja, jadi bisa jadi sangat salah. Saya merasa, kalau toleransi bangsa kita semakin lama semakin menipis. Banyak contoh yang bisa kita ambil dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya saja, para pengendara sepeda motor yang tetap nekat melaju dengan kencang meskipun dia tahu kalau lampu sedang merah dan menjadi hak para pejalan kaki untuk menyeberang jalan. Dalam satu kesempatan, saya pernah memukul salah seorang pengendara sepeda motor dengan keras dengan jotosan tangan saya (yep, I meditate every day and I still smack people, lol). Dalam satu kesempatan lainnya, saya pernah memukul pengendara sepeda motor kurang ajar dengan jas hujan. Marahkan mereka? Oh, tentu tidak… Kalau mereka marah, saya siap meladeni kemarahan mereka. Dan, tentunya, aksi saya ini mendapat dukungan dari para pengguna jalan dan penyeberang lainnya.

Contoh lainnya adalah para perokok di angkutan umum. Memang, sangat sulit ditemukan aturan tertulis di perundang-undangan larangan untuk merokok di angkot. Tetapi, menurut saya, ada larangan merokok di tempat-tempat umum (saya asumsikan, angkot juga termasuk) di banyak kota di Indonesia. Dua diantaranya adalah Sidoarjo dan Surabaya. Para perokok yang “sadar” ada penumpang lainnya, langsung mematikan rokoknya. Ada yang ditegur terus mematikan. Tetapi, yang paling MENYEBALKAN adalah yang tidak mau mematikan dan terus ngeyel merokok sambil bilang, “Mbak, ga pernah naik angkot ya??? Kalau ga mau asap rokok, ya sana… naik mobil pribadi…” Saya, sebagai orang yang naik angkot tiap hari, tidak terima diperlakukan dengan jawabam seperti ini, “please deh Mas.. Anda mungkin yang tidak pernah naik angkot… Sekarang ini ya, jarang ada penumpang yang merokok di angkot….” Tetap keras kepala dia… Ketika berdebat ini, saya lupa kalau membawa minuman di dalam tas saya. Mungkin kalau ingat, saya akan minum  air dalam botol itu, dan kemudian saya semprotkan di muka orang itu. Sama kan pada prinsipnya.. Mengeluarkan sesuatu dari mulut dan membuat orangnya terkena dampak?!

Masih mau contoh lainnya??? Nah, ini banyak saya temui di dalam penerbangan. Terutama domestik dan internasional ke sebelah. Ini masalah mental sebenarnya. Di dalam penerbangan, ketika pesawat sudah siap-siap mau take off, masih banyak orang yang mengirimkan SMS, menelpon, atau chatting, padahal sudah ada peringatan untuk mematikan alat-alat itu. Tetap bandel mereka. Banyak insiden yang saya alami. Yang paling memorable dari KL ke Surabaya. Seorang ibu dari ‘pulau seberang Surabaya’ sangat marah ketika saya peringatkan karena dia masih menelpon ketika pesawat isi BBM.. Sangking marahnya, dia sampai pukul-pukul kursi tempat saya duduk sambil teriak-teriak “Tak boleh tak boleh (tak mau matikan hp)…” hihihi. Saya mah cumin ngikik saja.

Dan, yang barusan terjadi di pesawat kebanggaan Indonesia karena merupakan salah satu dari 10 airlines terbaik di dunia. Duduk di samping saya seorang ibu. Dari tampangnya sih kayak kaum sosialita gitu. Berjilbab menor. Pakai cincin gedhe pula. Masih asyik BBM an ketika pesawat is about to taxiing. Lha, karena duduk di sebelah saya, langsung saya tegur ibu itu, minta dia matikan hp-nya. Jawabnya adalah “Mbak baru pertama kali naik pesawat ya?” tanyanya dengan nada sombong. Saya, sudah males merespon orang model beginian, buang-buang energy saja. Saya kemudian langsung tidur. Eh, si ibu kemudian nggosipin saya dengan teman di sebelahnya, “dasar udik. Baru pertama kaliii naik pesawat….”

Toleransi tidak hanya dalam hal-hal sepele setiap hari seperti yang saya sampaikan di atas. Tetapi juga toleransi dalam beragama. Orang yang agamanya tidak sama, dianggap tidak bisa dijadikan teman. Jangankan dengan yang berbeda agaman, orang yang satu agaman saja bisa jadi perang gara-gara berbeda aliran. Orang yang berpindah agama dianggap sangat salah dan dihujat-hujat. Kemudian, warung buka waktu puasa dilaknat-laknat. Seingat saya sejak kecil, kita yang berpuasa sudah terbiasa toleransi dengan warung yang buka. Ya biarkan tokh, warung-warung itu juga butuh sesuap nasi untuk persiapan lebaran. Dan, bagi kami yang berpuasa, itu tidak menjadi masalah sebenarnya. Anggap saja sebagai challenge. Puasa adalah perjalanan spiritual. Kalau kita memang komit, ya tidak akan terpengaruh oleh orang makan. Masih lebih berat tantangan terkena sengatan sinar matahari tengah hari daripada melihat orang makan dan minum J.

Sangat menyedihkan memang melihat toleransi yang semakin menipis di negeri kita. Padahal, kita, Indonesia, yang tersusun dari wilayah-wilayah terpisah di nusantara ini, bisa disatukan karena toleransi juga. Kita yang berbeda-beda, bisa saling menghargai. Semoga oh semoga, di negeri kita toleransi tetap terjaga. Karena, dengan toleransi, kita bisa menghargai orang-orang di sekitar kita. Kita sadar akan kepentingan mereka juga. Tidak hanya kepentingan pribadi kita.

Leave a Reply