Berjalan di Indonesia #4 Prasangka

Borobudur3

Manusia lahir membawa embel-embel dalam dirinya yang disebut prasangka. Prasangka bisa timbul ketika kita melihat seseorang dari wajahnya, warna kulitnya, cara berpakaian, cara makan, dan sebagainya. Lebih dalam lagi dengan agama apa yang dia peluk, nilai-nilai apa yang diyakini, dan sebagainya. The minute we see a person, we’ve already had a prejudice to him/her. Bisa prasangka yang bagus, bisa prasangka yang jelek.

Kalau di Amerika Serikat, persoalan yang melibatkan warna kulit bisa menjadi persoalan yang super serius. Akhir-akhir ini kita membaca banyak sekali berita yang terkait dengan kasus yang melibatkan isu rasial. Seperti yang terjadi pada Michael Brown di Ferguson, MO, Eric Gardner di New York City, ataupun kasus yang baru-baru ini terjadi di Charleston South Carolina ketika seorang anak muda masuk ke dalam gereja yang umumnya jemaat adalah komunitas African American. Pemuda itu memuntahkan senjata berkaliber .24 dan meninggalkan sembilan orang tanpa nyawa.

Semua ini karena benih prasangka. Prasangka yang melahirkan kebencian dan amarah.

Nah, beda di Amerika Serikat beda di Indonesia. Kalau di Paman Sam, kasus yang melibatkan warna kulit sebenarnya lebih sensitive daripada agama. Di Indonesia, prasangka yang melibatkan perbedaan agama bisa menjadi konflik yang berkepanjangan. Well, meskipun pada umumnya kita kemudian juga tahu kalau konflik itu selalu saja disulut oleh pihak yang kemudian disebut sebagai provokator (tidak ketauhan mereka itu siapa), atau oleh perbedaan ekonomi yang sangat curam.

Kita akan sangat sensi dengan orang-orang di luar agama kita. Ah, bahkan orang seagama tapi berbeda aliran, juga bisa menjadi hal yang sangat sensitive. Ahamadiyah di Lombok, Syi’ah di Sampang. Masalah-masalah prasangka ini sampai dengan saat ini belum menemukan solusinya.

Saya sebenarnya kurang percaya, kalau orang bisa terpecah belah karena agama. Kalau kita mungkin bertanya kepada masyarakat satu persatu, mungkin tidak ada dari mereka yang menginginkan konflik agama. Saya pernah bertanya kepada seorang teman dari daerah yang rawan konflik “agama.” Menurutnya, konflik yang terjadi di daerah dia, sebenarnya awalnya bukan karena perbedaan agama (meskipun dalam pemerintahan, ada pembagian kekuasaan berdasarkan agaman), tetapi dipicu oleh tawuran pada saat pertunjukan music dangdut.

Hanya saja, kalau perbedaan agaman itu disulut dan diperuncing perbedaannya, maka konflik akan sangat mudah untuk dipicu.

Kalau prasangka berdasarkan etnis ataupun warna kulit, Indonesia memang terblilang sangat aneh. Guyon-guyon berkaitan dengan ras tidak pernah menjadi orang-orang yang bersangkutan marah atau bagaimana. Malah kadang orang bangga dengan stereotype atau prasangka masing-masing etnis. Sampai kemudian ada joke gaya Madura atau joke gaya Papua ataupun joke ala Batak atau Jawa atau joke orang Sunda yang tidak bisa membedakan mana P dan mana F. Orang-orang kita selalu paham dan toleransi atas perbedaan-perbedaan itu. Itulah Indonesia. Negeri yang terbentuk dari wilayah yang super luas yang berbeda-beda etnis dan bahasa. Indonesia sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada adalah Nusantara. Lalu, kemudian disatukan dengan Sumpah Pemuda. Indonesia kemudian dibentuk atas dasar “imagine community.” Kita bahagia atas perbedaan-perbedaan itu.

Meskipun ketidakadilan dan konflik meletup disana-sini, kemudian kembali lagi, menjadi Indonesia. Ya begitulah, Indonesia.

Leave a Reply