Berjalan di Indonesia #2: Pertanyaan-Pertanyaan Kepo Nyebelin

photo-8Beberapa hari sempat ngobrol dengan teman saya dari Amerika Serikat, L. Sejak 2013, L back and forth di Indonesia sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di Indonesia sejak awal tahun ini. Suatu ketika, kami tiba-tiba saja mengobrolkan pertanyaan-pertanyaan kepo yang sudah ditanyakan oleh orang Indonesia, baik yang sifatnya basa-basi ataupun serius. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontakan orang Indonesia – termasuk orang yang baru bertemu sekalipun – tidak hanya “darimana” dan “mau kemana”, tetapi juga terhadap hal-hal yang lebih sensitive lainnya.

Bagi L, pertanyaan yang membuat dia tidak habis piker adalah “agamamu apa?” dibandingkan dengan “sudah menikah belum?.” Memang, pertanyaan-pertanyaan kepo seperti ini sungguh-sungguh sangat menyebalkan bagi banyak orang – termasuk saya. Terlebih bagi saya yang kerjaannya sering berhubungan dengan bapak-bapak yang memakai akik dan para pemberi pelayanan publik ini. Entah, apa kaitan agama yang saya peluk dan status pernikahan saya dengan hal-hal yang saya kerjakan. Well, kadang-kadang pertanyaan-pertayaan itu dilontarkan tidak berkaitan dengan apa yang saya kerjakan. Misalnya saja, ketika sedang menunggu, dan ketika sedang melakukan basa-basi. Ah, basa-basi yang benar-benar basi.

Ohya, saya sering sekali ditanya oleh orang yang baru bertemu pertama kali dengan saya tentang status pernikahan saya. Saya jawab berdasarkan mood. Kalau saya jawab, belum, maka mengalirkan segala macam usulan dan “koreksi” terhadap diri saya. Seperti, saya dianggal pilih-pilih (lha iya, ini milih suami lhooooo…. Masak asal munggut dari jalan, beli jeruk saja kita milih yang bagus. :P). Terus juga berbagai nasehat lanjutan seperti …”jangan sibuk cari duit saja, Mbak….” Eh lha… 😀 :D. Please deh, mind your own business. Kalau sewot saya sedang dominan, kadang saya bilang “memang, ada hubungan status pernikahan saya dengan apa yang saya lakukan…” and they will shut their mouths, LoL. Dan, kalau mood saya sedang “bagus”, maka mengaranglah saya cerita yang bagus tentang suami dan anak-anak saya. 😀 😀 😀

Saya kadang berpikir, orang-orang Indonesia itu sebenarnya memang sering tidak kreatif dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan. Mungkin, karena ini faktor budaya yang sudah ada di Indonesia sejak berabad-abad. Kalau menurut Elizabeth Pisani  di Indonesia Etc, kebiasaan orang Indonesia bertanya “darimana” dan “mau kemana” adalah warisan sejak jaman perdagangan kuno di kota-kota pelabuhan dan perdagangan. Karena di tempat-tempat inilah penuh dengan orang-orang asing. Sehingga, kebiasaan ini berawal. Tetapi, dia tidak menyebutkan sejak kapan pertanyaan “sudah menikah belum?” “apa pekerjaan?” “berapa anak” berasal. Mungkin faktor “pengetahuan” yang cuma segitu sehingga mereka tidak bisa memulai satu topik pembicaraan tanpa memulai dengan “sudah menikah?” Mbok ya, memulai topik obrolan dengan banyak hal lainnya. Serius, banyak hal yang bisa dijadikan topik menarik. Bahkan, saya lebih suka kalau orang yang saya ajak ngomong bercerita (sombong) tentang dirinya sendiri daripada bertanya yang tidak penting, hehehehe.

Dalam perjalanan kesana-kemari, saya jarang sekali bertemu dengan orang asyik yang tidak menanyakan status pernikahan. Saya pernah sekali bertemu dengan orang Indonesia yang super asyik. Waktu itu, kami satu pesawat dari Yangon ke Kuala Lumpur. Saya sebenarnya mengantuk sekali dan ingin tidur. Tetapi, entah kenapa kita tiba-tiba terjebak dengan obrolan yang sungguh-sungguh asyik. Kitapun kemudian malah makan siang bersama di airport. Tanpa kita bertanya apa pekerjaan kita dan status kehidupan kita. Sayangnya, orang seasyik ini mungkin hanya satu dibandingkan seribu orang yang kita temui.

Bahkan pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari teman-teman sekolahmu. Teringat minggu lalu harus pulang kampung karena butuh mengurus beberapa dokumen. Sampai akhirnya, urusan dokumen membawa saya ke kantor polisi. Lalu, ketemu teman jaman SMP dan SMA. “Lha, situ.. sekolah terus… lelaki takut lah sama kamu… “ (lha, kalau takut dan tidak pe-de ya sudahlah.. Masak, hanya karena ingin mendapatkan suami, saya harus terima hanya lulus SMA dan giving up seluruh mimpi saya? Kadang, atas pertanyaan-pertanyaan kepo yang tipis bedanya antara ingin tahu, prihatin, dan sok perhatian ini adalah “please mind your own business….” Urusin hidupmu sana sendiri.

Kadang, saya berpikir, orang yang suka mengurus kehidupan orang lain, sebenarnya adalah mereka-mereka yang tidak bahagia. Bukan berarti kalau saya tidak “mengurusin” kehidupan orang lain bukan berarti saya tidak perhatian kepada teman-teman saya atau teman-teman baik saya. Mereka sudah sangat paham dengan saya, and I will lend my hands or give my shoulders to those who need them.

Kadang, hidup di negeri penuh dengan orang kepo harus memiliki stok sabar yang berlebih. 😀 😀 😀

Leave a Reply