Berjalan di Indonesia #1: Adat

Batutumonga pagi hari

Batutumonga pagi hari

1 Januari 2010, Batutumonga dan Toraja seperti kota mati. Hampir semua penghuni kota – terutama yang lelaki, masih memulihkan diri dari pesta mabuk-mabukan semalamnya. Dari atas Batutumonga, kami melihat Kota Rantepao yang samar-samar ditutup oleh kabut. Awalnya, kami berencana naik angkot untuk kembali ke Rantepao, tetapi niat itu kami batalkan setelah kami diberitahu kalau tidak ada angkot yang jalan hari itu. Ya sudahlah, rupanya kami harus hitchhiking lagi untuk kembali ke kota.

persiapan upacara

persiapan upacara

dan saya-pun memutuskan untuk menunggu mobil yang lewat. Kami-pun menunggu di pinggir jalan di depan hotel. Tas ransel besar kami, kami sembunyikan di semak-semak. Kami duduk di pinggir jalan. Setelah 30 menit kami di duduk dan mencoba menghentikan mobil yang lewat, satu mobilpun berhenti. Seorang lelaki berumur 40 tahun berada di belakang kemudi. Dia bersama dengan anak lelakinya. Kami bertanya kepadanya, kemana dia akan menuju. Dia bilang akan ke Rantepao. Kami-pun diijinkan nebeng oleh si bapak ini sampai di Rantepao.

Rambu Solo'

Rambu Solo’

Jarak dari Batutumonga ke Rantepao lumayan jauh. Kamipun mulai mengobrol. Mulai pertanyaan standar dari mana dan sudah berapa hari di Toraja, obrolan mulai bergeser tentang adat-adat orang Toraja. Sudah beberapa tahun lelaki itu tidak tinggal di Toraja, tetapi merantau ke Makassar. Hanya sekali-kali saja dia pulang, terutama kalau ada upacara kematian (pemakaman) atau yang dikenal dengan nama rambu solo’.

Rambu solo tidak segera digelar ketika orang meninggal dunia. Tetapi biasanya setelah beberapa saat. Mungkin disesuaikan dengan kemampuan keluarga untuk mengumpulkan biaya. Karena upacara ini membutuhkan banyak sekali uang, terutama untuk membeli ternak (babi dan kerbau) yang akan disembelih ketika upacara. Biaya biasanya ditanggung oleh keluarga besar.

the mourning family

the mourning family

Sebelum upacara diselenggarakan, jenasah akan tinggal bersama dengan mereka yang hidup. Setiap hari, jenasah tetap diberi makan dan minum sebagaimana layaknya orang hidup.

Setelah rambu solo digelar, jenasah ini kemudian akan dikuburkan di bebatuan. Dengan mereka dikubur di bebatuan yang biasanya di ketinggian, mereka akan percaya itu lebih mempermudah nenek moyang mereka untuk kembali ke surge. Setelah mereka dikuburkan, biasanya aka nada replica patung yang persis dengan wajah orang yang sudah meninggal itu.

replika keluarga yang telah meninggal

replika keluarga yang telah meninggal

Meskipun orang Toraja pada umumnya menganut Kristen, mereka masih menjaga tradisi nenek moyang mereka ini. In the sake of tradition.

Namun, belakangan ini, adat ini dianggap terlalu memberatkan buat mereka yang hidup di abad 21 ini. Termasuk oleh bapak yang mobilnya kami tumpangi ini. Bayangkan, berapa saja uang yang harus mereka keluarkan untuk menyembelih kerbau dan babi ini? Harga kerbau beragam. Kerbau “bule” harganya bisa mencapai ratusan juta.

membawa jenasah ke makam

membawa jenasah ke makam

“Kami hanya hidup (bekerja) untuk upacara saja. Lalu, kapan kita harus membiayai anak-anak kita untuk sekolah” Dia kemudian menceritakan bagaimana kemudian banyak orang Toraja yang memutuskan tidak pernah pulang kampung ketika mereka merantau. Sekali mereka pulang, sulit sekali untuk melepaskan adat (yang sebenarnya) cukup memberatkan bagi mereka.

adu kerbau yang rangkaian rambu solo' yang melibatkan judi

adu kerbau yang rangkaian rambu solo’ yang melibatkan judi

‘Mahalnya’ beban adat sebenarnya tidak hanya menjadi beban bagi orang Toraja saja. Hampir semua adat sebenarnya mahal. Ini juga dialami oleh orang Bali dengan adat Ngaben-nya. Hanya saja, akhir-akhir ini, mulai “sedikit” ada perubahan terkait dengan Ngaben ini. Banyak warga yang kemudian menyelenggarakan Ngaben secara komunal. “Paling kita keluar biaya sekitar Rp. 5 juta,” kata Darwin, sopir yang biasanya mengantar saya kalau sedang ke Bali. Dia juga mengakui, kalau mereka tetap Ngaben secara mandiri, maka akan sangat susah untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Hal-hal seperti ini tidak saja dialami oleh orang Toraja dan Bali. Masih banyak lagi hukum adat yang teramat mahal.

Sebagai orang Indonesia, saya benar-benar sangat paham akan beragamnya adat di sini. And I can’t say either it’s good or bad. Dalam hal warisan nenek moyang, kadang ya memang harus dilestarikan karena “adat” yang dilakukan ini pasti ada alasan dan filosofinya. Terkandung wisdom yang sungguh luar biasa. Tetapi, jangan tanya dari segi finansial, sangat tidak ekonomis. :D.

Kete' Kesu: tempat yang terkenal dengan deretan tongkonan - rumah adat Toraja

Kete’ Kesu: tempat yang terkenal dengan deretan tongkonan – rumah adat Toraja

 

Leave a Reply