Baju Baru Lebaran Kami

nyt

Ketika masih kecil, baju baru hanya ada satu tahun sekali. Pada saat Lebaran. Selain itu, tidak ada alasan untuk membeli baju baru.  Bukan tidak mau, tetapi karena uang tidak ada. Baju baru itu, akan kami kenakan pada saat Lebaran. Dan, setelah Lebaran, baju itu akan menjadi “baju bagus” kami. Kalau di Barat dikenal nama dengan “Sunday best” atau baju yang hanya keluar pada Hari Minggu (buat ke gereja). Baju yang kami simpan di almari dan hanya keluar pada saat-saat tertentu saja ketika ada acara penting. Seperti misalnya pernikahan saudara, acara rekreasi di sekolah, dan sebagainya. Baju bagus itu kami pisahkan dengan baju “biasa” yang kami pakai sehari-hari yang disebut dengan “baju telesan” atau baju basahan.

Selama bertahun-tahun, membeli baju baru menjadi hal yang “sacral”, seperti keris yang dimandikan tiap 1 Suro.

Setelah saya kelas 3 SMP, saya menolak dibelikan baju baru ketika lebaran. Cukup beri mentahannya saja. Saya kemudian tidak menggunakan uang jatah baju lebaran untuk membeli baju, tetapi uangnya kemudian saya gunakan untuk main aka traveling entah kemana. Sejak SMP kelas 3, saya sudah mulai meniti karir sebagai tukang ngabur ke kota sebelah. Nah, berkaitan dengan baju… Karena setiap lebaran saya tidak lagi membelanjakan uang jatah baju untuk beli baju, jadilah baju-baju saya hanya sekumpulan gombal lusuh yang membuat ibu saya tidak tega, dan kemudian dibelikanlah saya baju baru. :).

 

****

merlin

Selama bertahun-tahun, saya sebenarnya sudah kehilangan makna “baju baru” ketika Lebaran. Bagi saya, Lebaran tidak lagi identik dengan baju baru lagi. Syukurlah, sudah cukup ada baju yang dipakai ketika Lebaran. Lebaran saya satu kali gebyar. Sementara itu, stok baju yang ada kadang-kadang dikumpulkan dari tindakan akibat “mindless.” Karena kekalapan-kekalapan sesaat. Hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. 🙁 Tapi ya begitulah namanya manusia. Sangat susah sekali untuk menjadi mindful terhadap seluruh tindakannya. Dan, kenapa saya begitu mudahnya untuk tergoda.. 🙁 Disitulah saya kadang merasa sangat sedih. :). Sesungguhnya, swipe and spend selalu meninggalkan lobang di hati dan di dompat. 🙂

Baiklah, ketika Lebaran kurang seminggu lagi, saya kebetulan bertemu dengan beberapa orang teman di dekat pusat perbelanjaan. Antrian kendaraannya minta ampun. Macet dimana-mana. Orang-orang pada menyerbu pusat perbelanjaan dengan kalapnya. Seperti kata sopir angkot di awal Ramadhan yang lalu. Dia berkata, “Yang Lebaran orang Islam, yang panen (duit), bisa siapa saja….” Lebaran,  memang seperti halnya Natal di negara-negara Barat. Belanja menjadi fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari Black Friday/Boxing Day sampai dengan diskon Natal besar-besaran. Orang-orang didorong untuk belanja demi perputaran ekonomi.

Kita tahu sendirilah bagaimana suramnya ekonomi di berbagai tempat. Tidak saja di Yunani atau di China, tetapi di negeri kita sendiri. Rupiah yang semakin jongkok terhadap USD. Pemutusan hubungan kerja menjelang lebaran. Pertumbuhan ekonomi yang terus menurun. Pasar-pasar yang tetap dijejali pembeli. Kata teman, “Krisis masih dikamuflasekan oleh Lebaran. Coba nanti lihat setelah Lebaran….”

Entahlah. Sepertinya makna dan tujuan puasa menguap begitu saja. Puasa yang sebenarnya tidak hanya mengajari untuk menahan lapar dan haus. Tapi sebenarnya adalah bagaimana kita bisa menahan the urges untuk apapun. Termasuk untuk menjadi konsumtif. Puasa sebenarnya hanya mengajari kita “mengambil sesuai dengan yang dibutuhkan” dan itu disimbolkan dari jumlah makanan yang mungkin kita perlukan ketika berbuka puasa. Lihatlah, kita hanya mengambil satu piring kecil saja, dan itu sudah cukup. Kita tidak membutuhkan makan dengan three courses of meals. Tidak tidak. Hanya satu piring saja, dan itu sudah cukup. Makan kebanyakan yang membuat perut menjadi bloated. Dan, orang berpuasa sebenarnya tidak membutuhkan makanan yang “enak.” Apapun enak bagi orang yang berpuasa. Makanya, ketika orang berpuasa pergi ke wadai (pasar) Ramadhan, dia akan kalap memborong makanan. Padahal, yang mereka makan mungkin hanya seperempat dari makanan yang mereka beli.

Hanya saja sekarang ini semuanya serba sebaliknya. Kalau dilihat beberapa tahun belakangan ini, yang terjadi adalah tren buka puasa bersama di luar bersama dengan teman-teman atau rekan kerja atau rekan-rekan jaman sekolah, atau apapunlah. Satu orang dalam satu kali periode bisa menghadiri acara buka puasa sampai dengan empat sampai lima kali. Bahkan juga lebih. Kalau mereka harus membayar dengan uang mereka sendiri, berapa uang yang harus dikeluarkan. Tentunya, puasa tidak mengajari kita untuk menjadi sederhana. Malah sebaliknya. Please don’t get me wrong. Bukan berarti saya tidak suka melakukan ini. Karena bertemu dengan teman juga bisa bikin happy and it’s more than money can buy. Tapi kok ya kontradiktif ya? hehehe.

Entahlah, apapun Lebaran kali ini – krisis atau tidak krisis, tetap saja seperti tahun-tahun yang lalu. Akan tetap blink-blink dengan baju-baju baru. Rumah-rumah yang baru diperbaiki cat-nya. Furniture-furniture baru. Uang-uang baru. Semuanya yang serba baru. Yah, ini kemenangan dan mestinya harus dirayakan – dengan semua paradoksnya.

Anyway, selamat berlebaran semuanya. Yang pulang kampung, selamat bermudik ria. Selamat berkumpul dengan keluarga. Semoga lebaran tahun ini tetap bahagia. 🙂

Leave a Reply