Back to School: the Untold Story

Sebagai seseorang orang dari desa, keluarga saya percaya kalau pendidikan menjadi salah satu cara untuk berubah. Pendidikan bisa mengubah mindset kita, memperkaya pengetahuan kita, dan sebagainya. Karena itu, meskipun kami miskin, bagi keluarga kami yang penting adalah education first. Apa yang dimakan dan apa yang dipakai tidak penting, yang penting anak sekolah dan buku komplit. Caranya? Bisa ngutang di koperasi guru, hehehehe. To tell you the truth, selama saya kuliah, itu SPP dibayar dari duit hutang di koperasi guru, dicicil selama lima bulan kemudian. Nah, giliran bayar SPP, hutang lagi. Begitu seterusnya sampai saya hampir lulus. Waktu itu, memang sedang banyak banget masalah dan krisis yang panjang sekali ceritanya.

Anyway… Cuma, sejak kecil saya selalu punya mimpi yang tinggi tentang sekolah. Kalau, suatu hari, saya ingin sekali kuliah di luar negeri, dan tidak bayar. Lha, kalau mau bayar sendiri mau dibayar pakai apa, wong makan saja pas-pasan. Hihihihihi. Makanya, ya ngebut doa, minta sama yang ngasih hidup. Saya sendiri sebenarnya juga sekolah.

Tidak tahu ya mengapa mesti ke luar negeri. Mungkin sebenarnya the idea is not going to school overseas, tetapi lebih keinginan to experience living in different culture, away from home.

Millennium Student Center (MSC) di malam hari.

Millennium Student Center (MSC) di malam hari.

Jaman S1, ya coba apply ini dan itu biar bisa ngabur ke luar negeri. Tidak dapat. Lulus S1 dan jaman bekerja, setiap kali ada lowongan beasiswa, pasti melamar. Mulai dari APS (Australian Partnership Scholarship) sampai dengan beasiswa tidak penting kursus Bahasa Belanda di Belanda/Belgia yang dibiayai oleh NTU-pun aku apply. Ada yang lolos, ada yang tidak. Nah, yang paling menyedihkan itu ketika apply beasiswa Ford Foundation. Sudah sampai di tahap wawancara dan sudah kepedean bakal diterima, eh ternyata tidak diterima. Rasanya hati hancur.. Sakitnya tuh disiniiiiii… :)). Mungkin yang bikin broken hearted itu karena sudah sampai tahap akhir dan waktu proses seleksi beasiswa itu lama sekali; sekitar satu tahun.

Mansion Hill: apartemen selama dua tahun di US

Mansion Hill: apartemen selama dua tahun di US

Beasiswa yang akhirnya “nyanthol” adalah ketika sudah tidak ngarep sama sekali. Malah lebih terkesan saya “iseng” waktu apply. Bahkan, setelah mengirimkan aplikasi beasiswa saya tinggal berlibur ke Toraja selama satu minggu sama Uli.

Saat itu, saya bahkan sudah memutuskan dan daftar ambil S2 di dalam negeri dengan biaya sendiri. Itu adalah satu keputusan setengah desperate karena waktu itu saya hampir 30, dan belum ada tanda-tanda mau dapat beasiswa. Padahal, saya punya target kalau 30 harus sudah ada kepastian S2.

Eh, tidak tahu, sebulan kemudian dipanggil buat wawancara. Nah, karena di awal-awal gagal saya di wawancara, saya dapat kursus singkat dari teman saya si Citra yang kala itu sedang S2 di Australia dan kebetulan lagi mudik. Jadinya, saya di-training sama dia sambil luluran dan makan rujak. Jadilah di wawancara by phone sudah lebih siap meskipun sedikit nervous. Akhirnya, jadilah wawancara sejam lebih.

Thomas Jefferson Library: tempat bikin tugas, tempat jatuh cinta, bahkan tempat doozing off kalau sore.

Thomas Jefferson Library: tempat bikin tugas, tempat jatuh cinta, bahkan tempat doozing off kalau sore.

Setelah wawancara tidak lagi mikir diterima atau tidak. Tidak ngarep sama sekali. Malah moving on dengan S2 di almamater. Termasuk bayar-bayar buat SPP, foto buat KTM, termasuk sudah bikin KRS (Kartu Rencana Studi). Kelar bayar-bayar dan ngisi KRS jam 2, jam 4 sore ngecek email.. Eh, ada email dari si penyelenggara beasiswa: ternyata dapat, hehehe. Tidak tahu saya harus sedih atau gembira. Campur aduh deh rasanya.

Ya sudah, moving on dengan beasiswa dari USAID.

Ya sudah, karena yang di almamater sudah terlanjur dibayar, maka kuliahnya saya disana. :)). You know lah, di Indonesia, kebijakan pengembalian duit yang sudah dibayarkan pasti akan sangat mbulet. Setelah ngobrol sana-sini sama orang rumah, ya sudah direlain duit yang sudah terlanjur masuk dan “kuliah” dulu di Unair sembari pemanasan sambil menunggu dapat kampus di US.

Florissant Road: rute jalan dari apartemen ke kampus. Bayangkan saja kalau malam.

Florissant Road: rute jalan dari apartemen ke kampus. Bayangkan saja kalau malam.

Setelah menunggu dua bulan dalam kondisi H2C, akhirnya dapat kampus juga di US. Kalau tidak dapat kampus di US dalam beberapa saat, maka mau tidak mau harus kuliah di dalam negeri. Begitu kata sponsor.

Dapatnya sekolah di UMSL (University of Missouri Saint Louis). Kampus ini ada di St. Louis. Sebuah kota yang sering disebut “gate to the west.” Kota yang terkenal dengan simbol Arch-nya itu. Kota tua yang sangat cantik di pinggiran Sungai Mississippi. Kota yang memiliki taman yang super gedhe, Forest Park. Tapi, di satu sisi juga terkenal sebagai one of the most dangerous cities in the US. Later, I knew that Saint Louis is the most fragmented city in the US.

Benarnya, waktu ga dapat-dapat kampus, sudah sempet ketir-ketir juga. Mengingat tes GRE saya jelek banget.  Padahal, buat tes itu, sudah belajar. Dan efek habis tes itu, kepala cenut-cenut sampai besoknya. Mungkin kalau di film kartun begitu, itu yang kepala sampai muncul asap itu sangking panasnya. Terus kemudian tes Bahasa Inggris juga pas-pasan. Tapi kata si agent, tidak perlu saya ambil tes lagi karena apply ke kampus pakai IELTS saya, tidak pakai TOEFL. Dan, saya tidak bisa kursus Inggris di dalam negeri karena dianggap “mampu.” Kalau memang butuh kursus Inggris, nanti di kampus saja, sambil kuliah. Ya sudahlah, manut.

menghibur diri

menghibur diri

Sebelum saya berangkat S2 dulu, saya berpikiran saya akan bisa sedikit bernafas dari kesibukan bekerja dan bisa setengah fokus nulis novel atau buku (tidak serius). Berharap sekolah bisa menjadi lebih santai.

BUT IT WAS A BIG MISTAKE!!!! Sekolah S2, sama tidak santai. Jauuuuhhhhh dari apa yang dinamakan santai. Sebaliknya malahan. Hidup saya tiba-tiba saja menjadi terbalik-balik.  Jaman S1 di Indonesia tidak bisa dibandingkan seipritpun.

Mungkin banyak faktornya juga. Saya kembali ke sekolah di usia yang tidak lagi muda. Sudah kepala tiga. Sudah mulai berbagi fokus. Ketika mulai menggalakkan membaca text book lagi susahnya ampun-ampun. Eh, atau memang ya saya kurang pintar. Jadi, adaptasinya lama banget. Mungkin ini adalah problem yang dialami oleh banyak orang yang sudah pernah bekerja di job market for a couple of years kemudian tiba-tiba kembali ke sekolah lagi. Jadi, ada semacam shock begitu. Dari yang biasanya membaca novel for fun, tiba-tiba harus membaca beberapa text book hanya untuk satu tema bahasan kuliah, hehehe. Ini baru satu tema di satu mata kuliah. Ada beberapa mata kuliah lainnya juga.

messy book menjelang ujian

messy book menjelang ujian

Jadilah saya mulai kehidupan sebagai mahasiswa S2 dengan Bahasa Inggris yang masih belepotan. Bahkan, tanpa saya sadari,  saya mengalami culture shock. Sampai saya menjadi gagap kalau ngomong, sering tidak nyambung kalau diajak ngomong, sering tidak paham orang-orang ini pada ngomong apaan sih. Saya tiba-tiba saja menjadi orang yang super minder. Tidak bisa mencari teman. Dan, kalau di kelas, takutnya ampun-ampun, apalagi di kelas Prof. TS yang isinya cuman diskusi saja. Mateng Nakkkk… Saya tidak bisa sekalipun menangkap apa yang diomongkan orang-orang itu. Well, orang-orang Midwest, kalau bicara, hurufnya suka ditelan-telan begitu. Di kelas Prof. TS juga, saya pernah dapat tugas yang dikasih nilai F alias FAILED!! Hahahaha.

gara-gara tugas kelas Prof. TS: Urban Politics, lol

gara-gara tugas kelas Prof. TS: Urban Politics, lol

Ini terjadi karena sebenarnya, saya tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan mereka dan bagaimana “tata krama”akademik. Juga, saya tiba-tiba menjadi seorang pemalu dan mindernya segunung. Sama orang tidak PD sama sekali. Jadilah, bertubi-tubi itu culture shock-nya.

Sampailah di penghujung semester pertama. Eh, IPK di bawah tiga. Jadi dipanggil pembimbing sambil setengah murka. Duh, ampuuunnnn.. Dibilangin macam-macam.  Termasuk warning saya bisa dikeluarkan dari sekolah. Intinya, saya dikasih kesempatan kedua. Asalkan saya bisa berubah: IPK naik, mau komunikasi, dan sebagainya. Everybody is there to help. Ya sudahlah. Intinya, saya harus berubah.

Akhirnya, semester dua dan seterusnya, masih tetap jatuh bangun. Tetapi, sudah mulai bisa adaptasi. Manajemen waktu sudah mulai OK, tiba-tiba minder menghilang, dan mulai tambah banyak teman. Kemudian, semuanya berlari dengan cepat, sampai tibalah saat mau lulus.

Mungkin, sekolah ini menjadi blessing in disguise. Di saat inilah, saya menemukan kecintaan saya kepada “dapur.” Well, dari dulu saya cinta dapur. Ketika di grad school inilah, semakin menjadi. Masakan saya tidak pernah enak, tetapi lumayan bisa memuaskan lidah saya, dan bisa mengusir stress. Jam berapapun kalau saya stress dan masih terbangun, maka dapur menjadi tempat meditasi yang paling manjur. Selain dapur, hal lain yang membuat saya happy adalah minum kopi. Jangan salahkan saya kalau dalam sehari saya bisa habis tiga atau empat cangkir kopi hitam dan nendang – sampai lambung rasanya tidak karu-karuan karena ditendang sama kopi, hehehe. Juga, saya menjadi sadar kalau saya ini suka sekali jalan kaki dengan tenang aka mindful walk di Forest Park. Saya menjadi lebih sadar lagi kalau Whole Foods market jauuuuhhh lebih menarik daripada Mall Galeria.

kopi kopi kopi.. mana kopi :)

kopi kopi kopi.. mana kopi 🙂

Dari sekolah yang “berdarah-darah” ini, banyak sekali pelajaran moral yang bisa saya ambil:

  • Talk! Jadi, apapun masalahmu, do not hesitate to talk to people about your problem. They’re there to help you. Kalau belum terbiasa atau masih takut-takutan atau sungkan-sungkanan untuk ngomong secara langsung, drop her/she an email. Kalau kamu tidal ngomong, tidak ada telepati disana. Dan, rasa sungkan yang diboyong dari Indonesia sangatlah merugikan.
  • Time Management. Seberapun banyaknya tugas, memang akan bikin overwhelmed, terlebih-lebih di semester pertama. Nah, karenanya, butuh time management yang bagus. Di S2 sebenarnya enak, karena sejak awal apa yang akan diajarkan dan tugas apa yang diberikan sudah ada di dalam silabus. Makanya, sebenarnya sudah bisa diprediksikan tugas ini due date-nya kapan. Jadi, tidak seperti di Indonesia yang kadang-kadang masuk ke kelas itu juga pikiran masih kosong. Kalau time management bagus, sebenarnya tidak soro-soro banget. Memang, membiasakan membaca buku lagi masih menjadi masalah yang lumayan agak susah. Terutama buat orang seperti saya yang sudah terlalu kebanyakan berkecimpung di dunia praktis, bukan akademis.
  • Travel and Have Fun. Kayaknya, inilah yang bisa membuat saya bertahan. Ya, karena bisa jalan-jalan ketika liburan. Jangan heran kalau saya pulang ke Indonesia tidak bawa uang seperti yang dibayangkan banyak orang. Wong duitnya habis buat jalan-jalan, hihihi. Sekali-kali, bersenang-senanglah… Pergi makan keluar sama teman. Pergi ski, karaoke, atau apalah. Yang penting, jangan di kamar terus. Pergi jauh-jauh ke US, kita tidak saja disuruh belajar dan belajar, tetapi bagaimana kita bisa memahami budaya negeri dimana kita tinggal. Go to park or national forest… see the trend, then compare with going to the mall. 

Selama sekolah ini, banyak sekali hal yang saya pelajari. Hal yang tidak bisa dinilaikan dengan uang. Hal-hal yang tidak mungkin terjadi kalau saya tidak melewati fase hidup saya yang ini. Meskipun at the end saya menyadari, school is not my thing, but this chance really helps me to find what my interests really are.  Dan, saya sangat beruntung mendapatkan kesempatan seperti ini. Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan ini. And, I learned beyond academics stuffs.

Leave a Reply