25 Things You Should Know if You’re Traveling to Myanmar (these days)

If you’re traveling to Myanmar these days, here are 20 things you should know.. :D. Well, kondisi ini bisa jade akan berubah dalam beberapa tahun mandatang.

1. Driving at the right side, BUT the driver seat is at the RIGHT SIDE (mostly). Ini terjadi karena mobil-mobil yang di-import ke Myanmar umumnya adalah second handed cars dari negara-negara yang nyetirnya di sebelah kiri seperti Thailand atau Jepang. Jadi, ini bisa sangat berbahaya sekali, terutama kalau mau mendahului kendaraan lain. Kondisi ini baru aku sadari ketika road trip dari Hpa-an ke Yangon. Waktu itu si sopir mau mendahului kendaraan di depan kami, dan dia setengah ampun susahnya mau nyalip. Saya yang duduk di back seat sebelah kiri akhirnya ngasih aba-aba ke dia. Yes, sudah aman, Sir.. Silahkan nyalip mobil di depan.

driver seat di sebelah kana :D

driver seat di sebelah kana 😀

2. Myanmar driver may be one of the worst in SE Asia. Yang bisa ngalahin cuman sopir Kopaja di Jakarta… :)). Selain sangat ngebut (termasuk di jalanan raya Kota Yangon), mereka juga kurang peduli dengan para penyeberang jalan kaki. Lebih berbahaya dari Jakarta. Seriously.

3. Cowok-cowok pada bersarung, nginang, dan bawa payung. Seganteng dan semodern apapun cowok disana, mereka dengan santai akan pakai sarung (longyi) sama menginang. Nah, nginang ini yang bikin sedikit ilfil ya.. Gigi mereka jadi merah-merah gitu. Belum lagi, mereka buang ludah merah di sembarang tempat. Kadang, kalau mereka menyetir mobil, kalau pas berhenti di jalan atau lampu merah, masih sempat-sempatnya buang ludah. (Tetapi, dalam kamusku, cowok di Asia Tenggara yang paling cakep masih dipegang cowok Thailand). Nah, kalau payungan, mereka bilang, Yangon panas banget. Jadi ya kemana-mana pakai payung. Eh, cowok di Indonesia sebaliknya, sepanas apapun ga mau payungan, tapi malah pakai jaket. :)).

cowok-cowok payungan dan sarungan

cowok-cowok payungan dan sarungan

4. Di Myanmar, lebih enak pakai sandal. Pakai sepatu bisa sedikit merepotkan. Soalnya, ketika kita masuk ke dalam pagoda, harus sudah lepas sepatu/sendal mulai dari pintu masuk paling depan. Termasuk juga kalau mau menyusur gua. Karena aku dari awal bawa sepatu saja, ya tentu saja repot. Sejujurnya, aku kurang suka jalan pakai sandal karena sakit. Lebih enak pakai sepatu. Karena sering lepas sandal, akhirnya, sepatu ditinggal di mobil saja dan kemana-mana nyeker. Yang bikin agak gimana gitu adalah ketika masuk ke dalam kuil dan kaki nyeker, disana banyak banget kotoran burung-burung yang terbesar di dalam gua/pagoda. Keep in mind juga untuk berpakaian tertutup, terutama kalau mau masuk ke pagoda-pagoda. Meskipun kaki nyeker, pakaian tertutup semua booo…. :D.

5. Too Many Pagodas (and Caves). Myanmar terkenal dengan nama Negeri Seribu Pagoda. Sama kayak Thailand, negara Seribu Wat. Sampai suatu ketika, merasa perlu bilang “enough for Pagoda and caves, lol. Could not believe I’ve said it.

cave monastery

cave monastery

6. Pembagian daerah/wilayah di Kota Yangon berdasarkan Block System seperti di UK atau US. Jadi, mencari alamat disana gampang banget. Ga ruwet kayak di Surabaya. Coba, mencari Jojoran Gang 1 sama gang 4 saja sudah semrawutnya minta ampun. Belum lagi Kedung Tarukan Baru, Karangmenjangan, dan sebagainya. Disana, rapi banget… Jadi susah terserah. Selain jalan gedhe, di jalan-jalan agak kecil kayak gang gitu, disebut pakai nama “50th Street, 40th Street, etc.

7. Taxi is SO CHEAP in Yangon. Umumnya taksi di Yangon dikelola secara private. Jadi, banyak banget bertebaran di Yangon yang dikemudikan oleh para pemilik mobil sendiri. Taksi-taksi ini pakai tawar-menawar, tidak ada meteran. Umumnya, untuk rute menengah di downtown akan berkisar 2,000-3,000 kyats. Tapi, sopir taksi disana sangat baik. Dia akan membantu kita untuk menemukan alamat yang kita tuju sampai dengan ketemu.  Mereka juga tidak akan muter-muterin para penumpangnya. Tidak seperti di Indonesia, kalau penumpangnya “agak bego” arah, sering jadi sasaran empuk buat ditipu-tipu :((. Selain itu, saya pernah bertanya kepada sopir taksi, bagaimana kalau mau naik bis? Dia menyarankan turis untuk tidak naik bis karena di bis banyak pencopet. Dan umumnya turis naik taksi. Well, taksi tidak semahal di Indonesia yang penting.. 😀

8. Di Myanmar, jarang ketemu orang-orang yang resek. Tidak ada orang-orang yang cuit-cuit atau ngomong tidak sopan kalau orang sedang jalan di jalan raya. Mereka ramah, tapi umumnya mind their own business. Mereka juga sangat ramah-ramah lho orangnya. Dan, kalau menolong itu tidak mengharapkan imbalan yang macam-macam. Nolong ya nolong. Dan nolongnya juga ikhlas… Mulai dari pesawat, ranselku diambilkan oleh cowok Burma yang duduk di samping, di toilet bandara disambut ramah ibu-ibu penjaga toilet yang memakai tanakha, sampai juga di bandara tidak ada calo resek. Taksi ya pesen di counter taksi. Mbaknya ramah-ramah dan baik-baik. Tahu aku lagi butuh SIM Card telepon, diantar ke counter, ditunggu, dan diantarkan ke sopir taksinya.

9. Yangon kotanya super aman. Tidak usah takut copet, rampok, atau orang jahat lainnya deh. Yang sedikit menjadi masalah kalau jalan malam hari di Yangon adalah jalan yang gelap dan trotoar yang masih lumayan buruk – dengan lubang-lubang yang bisa bikin terperosok karena seukuran orang lubangnya. Kita bertiga (T, F, dan aku) jalan sejauh 10 blok, menghabiskan banyak waktu untuk melihat jalan yang berlubang.

10. Di Yangon tidak ada sepeda  motor. Bisa dibayangkan akan lebih kacaunya lalu linta kalau sepeda motor boleh beroperasi di Yangon. Konon, ceritanya, sepeda motor disana dilarang setelah salah seorang pimpinan militer terbunuh gara-gara sepeda motor.

Zwekabin Hotel in Hpa-an

Zwekabin Hotel in Hpa-an

11. Dua hal yang membuat traveling ke Yangon mahal: hotel dan terbatasnya angkutan umum. Nah, di Yangon memang belum seperti di Bangkok atau di Bali yang jumlah hotelnya tinggal milih saja sesuai dengan budget. Memang mulai ada hotel-hotel sekelas Shangrila atau Novotel, tetapi mahalnya minta ampun. Per malam bisa lebih dari $200. Hotel-hotel lokal juga mahal, meski standarnya ya begitu deh. Kami traveling ke Hpa-an, per malamnya kamar tempat kami menginap (paling ekonomis) seharga $70. Fasilitas sama kayak hotel kelas melati atau hotel-hotel di kota kecil di Indonesia yang harganya cuman Rp. 300 ribu-400 ribu. Setelah membaca buku Aung San Suu Kyi baru ketahuan kalau memang “hotel” tidak umum bagi orang Burma. Kalau orang Burma bepergian, mereka sangat jarang menginap di hotel, tetapi di rumah teman atau saudaranya. Tapi nampaknya hal ini mulai berubah dengan semakin opennya Myanmar terhadap dunia luar. Selain itu, masalah transportasi umum yang kurang memadai membuat kalau orang bepergian dan ingin agak nyaman, mau tidak mau harus sewa mobil. Ini karena kendaraan umum seperti bis antar kota kurang reliable dan kondisinya begitulah… Bis yang bagus-bagus adalah jurusan-jurusan major seperti Bagan atau Inle. Mobil yang kami sewa ke Hpa-an sehari ongkosnya mencapai $150.

authentic Burmese food in Hpa-an

authentic Burmese food in Hpa-an

12. Makanan murah banget di Myanmar. Berbeda banget dengan hotel dan transportasi, makanan murah banget. Apalagi kalau mau makan di pinggir jalan. Sampai kenyang palingan cuman 1000-2000 kyats. Cuman jangan tanya standar higienisnya (meskipun ada juga yang bersih-bersih. Kayak gerobak makanan ditutupin sama kelambu untuk menghalau dari lalat dan saudaranya, tetapi tidak mampu menghalau dari debu :D). Tapi kalau dilihat dari penampakan, enak-enak lho…. Tapi jujur saja, saya tidak mencobanya karena saya tidak mau menanggung resiko diare karena perut saya yang super sensitif. Saya tidak mau traveling ini jadi tidak enak gara-gara kena diare seperti yang terjadi di Bangkok beberapa waktu yang lalu. Disana seminggu, seminggu pula saya diare karena kebanyakan makan di jalan :)).

Burmese tea @ Rangoon Tea House

Burmese tea @ Rangoon Tea House

Karena itu, selama di Yangon, saya cari yang aman-aman saja.. Biasanya pergi ke tempat orang-orang asing disana biasa makan yang sebenarnya harganya juga ga selisih banyak sama yang di jalan. Karena saya nunut di teman saya, kadang juga makan di rumah. :D. Kalau orang dengan perut lembeng, mendingan stick dengan restoran bule saja deh. Sejujurnya, makanan-makanan Burma enak-enak. Sebelas-dua belas sama masakan Indonesia. Greasy, oily, yummy, and spicy. Tidak sedikit yang pakai MSG. Hahaha. Apalagi disana, makanan kena pengaruh dari India. Kalau di Yangon, pilihan makanan dan restoran banyak banget. Tetapi kalau bepergian keluar Yangon, agak susah juga pilih-pilih. Demi amannya, saya selalu bergantung pada pisang dan jeruk. Dan, kalau ketemu tempat yang lumayan, barulah makan. 😀 😀 😀 (PS: semakin tua semakin lembeng).

blissful morning with a cup of hot cocoa from Teo's apt

blissful morning with a cup of hot cocoa from Teo’s apt

13. Yangon is pretty hot during the day. Meskipu menurut teman saya, ini sudah sejuk cuacanya. Memang, kalau pagi sejuk banget udaranya. Karena itu, kalau jalan disana mendingan pagi atau sore hari. Teman saya ketawa-tawa ketika saya cerita kepanasan di Shwedagon. Dia bilang, “Kamu buang 8.000 kyats dan kepanasan disana? Oh my.. seharusnya kamu pagi-pagi kesana, atau sore sekalian…” Dia memang menyarankan kesana pagi-pagi, tetapi saya sedang ingin menikmati pagi dengan leyeh-leyeh dan minum coklat panas. Ah, dasar saya laid back. 😀

14. Masuk kuil bagi orang lokal gratis, tetapi orang asing (turis) harus membayar. Jumlahnya bervariasi. Misalnya di Shwedagon turis membayar  8.000 kyats dan di Hpa-an, membayar 3.000 kyats.

15. SIM Card sekarang ini gampang sekali didapatkan. Kata temanku, Teona, ini belum lama. Masih kurang dari enam bulan. Dulu, kalau mau punya telepon seluler bagi orang lokal, harus ada orang lokal sebagai penjaminnya. Sekarang ini, di bandarapun kita bisa mendapatkan SIM Card baru. Harga SIM Card lumayan mahal $8 dan isi ulang pertama $10. Cuman, saya belum yakin kalau texting bisa ke internasional. Karena saya coba mengirimkan beberapa SMS, tetapi tidak diterima oleh yang saya kirimi.

16. Cash Economy. Kalau bepergian ke Yangon, bawa cash yang banyak ya… hehehe. Soalnya, di banyak tempat belum mengenal pembayaran debit atau CC. CC biasanya hanya diterima di merchant-merchant besar, atau hotel-hotel standar internasional. Lainnya, bayar cash dong… :D. Sistem ekonomi yang menghindari orang dari konsumerisme sebenarnya. Ga ada uang, ya tidak beli. Ini satu-satunya trip yang membuat saya bebas dari kegiatan gesek-menggesek.

17. Cewek-cewek Burma ukurannya super mini. Di Indonesia, saya sudah tergolong tidak terlalu gedhe ya.. Baju di Indonesia ukurannya S atau size 2/4. Iseng saja masuk ke toko baju di Yangon dan coba-coba. Ukurannya S dong. Dan… Voila… kancing atas saja tidak bisa ditutup… Duh, kecil-kecil banget cewek Burma ini. Kalau dipikir-pikir, cewek-cewek Indonesia itu lumayan gedhe-gedhe ya.. Kalau kata teman-temanku, itu karena makanan di Indonesia enak-enak. Dan, di Myanmar sangat sedikit dijumpai orang gendut. Umumnya orang kurus-kurus. Selain kurus, mereka juga menggunakan tanakha, semacam bedak dingin yang juga dipakai oleh perempuan di Wakatobi.

macet di siang bolong

macet di siang oblong

18. Yangon, seperti umumnya kota lain di Asia Tenggara, sudah sangat modern. Termasuk juga kemacetannya, hehehe. Tetapi, kalau kita bepergian ke daerah-daerah pinggiran seperti Hpa-an di Kayin State, suasana masih sangat pedesaan sekali. Mengingatkan aku dengan hidup di pedesaan di Indonesia pada era 80an dan 90an. Rumah-rumah panggung dari kayu dengan halaman yang luas dan orang bisa masuk ke halaman mereka. Rumah-rumah yang terbuka. Orang-orang yang ramah dan memberikan salam “Mingalabar” ketika kita jalan-jalan ke desa. Hal yang sama juga terjadi di kehidupan desa pada umumnya dimana masih banyak orang miskin.

a view from Teo's apt

a view from Teo’s apt

19. Meskipun di Yangon sering dibilang tidak ada night life, bar hopping lumayan menarik untuk dilakukan. Selain itu, beberapa bar di weekend suka ada live music. Kami pergi ke Gekko di Merchant Street, dan kala itu yang main jazz! Bagus juga musiknya. Tiga bule dan dua orang lokal yang main.

20. Air gratis dimana-mana. All you need is bottle water. Kalau berjalan keluar dari Yangon, di depan rumah-rumah warga, banyak sekali kendi-kendi air besar dan gelas disedikan di depan gerbang rumah. Siapa saja -para musafir yang lewat – bisa mengambil minum disana. Air gratis galonan juga sediakan di beberapa lokasi di Shwedagon Pagoda.

21. Pasar Bogyoke Aung San Market yang terkenal itu tutup tiap Senin. Nah, ini yang tidak saya tahu. Maksud saya “save the best for last” alias berkunjung ke pasar pada Senin karena weekend kami ke Hpa-an. Tiba-tiba Teo bilang, “Ya ampun, aku lupa bilang ke kamu kalau pasar itu tutup tiap Senin… ” 🙁 🙁 :(. Ya sudahlah, jadi saya aman tidak berbelanja di Myanmar selain membeli makanan buat bertahan hidup, LoL. Saya juga sudah niat kesana Senin karena sebenarnya apartemen Teona dekat sekali dengan pasar itu. Dari beranda apartemen Teo, pasar itu kelihatan jelas sekali.

22. Ukuran buah-buahan di Myanmar besar sekali. Ketika saya terkesima dengan ukuran buah-buahan di Myanmar ini, Teona sampai terheran-heran, “memang di Indonesia tidak sebesar itu?” Ah, tidak.. buah-buahan di Indonesia sekarang ini kan sudah menjadi super kecil. Mungkin saja karena kandungan nutrisi di dalam tanah sudah mulai berkurang sehingga ukuran buah-buahan menjadi lebih kecil.

23. Kalau Anda bepergian keluar kota (atau kemanapun di Myanmar), jangan lupa bawa paspor karena akan ditanya ketika check-in ke hotel dan kadang-kadang ada pemeriksaan. Ini terjadi kepada kami ketika di Hpa-an. Sebelum kami check-in hotel, semua data kami dicatat oleh petugas hotel. Termasuk juga nomor Visa kalau ada. Saya berkali-kali ditanya berapa nomor Visa saya. Rupanya banyak diantara mereka yang belum tahu kalau sesama warga SE Asia sudah bebas Visa. Ini terjadi juga ketika di Hpa-an ada beberapa check-point paspor dan visa. Kayin sendiri termasuk state yang sedikit bergolak. FYI, untuk orang Indonesia, kita bisa berada di Myanmar sampai dengan 14 hari tanpa Visa. Kalau di Myanmar lebih dari itu, wajib mengurus Visa.

24. Ada plat mobil khusus bagi monastery. Di Yangon, warna plat mobil lebih banyak daripada di Indonesia. Disana, plat mobil ditambah dengan warna kuning untuk Monastery. Sedangkan kalau kendaraan umum menggunakan plat mobil warna merah.

25. Best time to Myanmar? November-Maret. Soalnya, setelah April sudah dimulai masa moonsoon, dimana akan hujan sewaktu-waktu dan udara luar biasa panasnya. Kata Teo, selama musim hujan (dan panas ini), keringat bisa mengucur dengan bebas dari tubuh.

3 comments

  1. Indri says:

    Hai…salam kenal, aku Indri. Aku lagi cari apate di Yangon, karena akan stay for a long time disana. Ada infokah? Makasih ya

    • hariatninovitasari says:

      Hallo Indri, aku tanyakan temanku dulu ya…. :). Aku carikan informasi disana. Nanti aku kabari ya… 🙂

Leave a Reply